Opini, Blits News – Debat publik perdana Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2024, yang bertema “Transformasi Sosial dan Peningkatan Sumber Daya Lokal untuk Kesejahteraan Masyarakat Jawa Timur”, sukses diselenggarakan oleh KPU pada Jumat, 18 Oktober 2024, di Graha Universitas Negeri Surabaya. Dari acara tersebut, pasangan calon Risma-Gus Hans (Paslon 03) berhasil mencuri perhatian publik, sementara pesona petahana Khofifah tampak mulai memudar.
Saat menyampaikan visi, misi, dan program aksi, Risma-Gus Hans menunjukkan komitmen kuat dalam pemberantasan korupsi. Paslon ini mengedepankan cita-cita good governance melalui transparansi anggaran dan sikap anti-korupsi, hal yang sangat relevan dengan situasi Provinsi Jawa Timur yang saat ini mendapat sorotan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini semakin memperkuat posisi mereka di mata publik yang menginginkan pemerintahan bersih dan berintegritas.
Namun, momen paling mencolok terjadi saat sesi tanya jawab. Khofifah terlihat beberapa kali mengucapkan “mohon izin” ketika bertanya kepada Risma, terutama terkait masalah kesehatan di wilayah Madura. Sikap Khofifah yang permisif ini menimbulkan tanda tanya. Sebagian menganggap hal ini sebagai indikasi bahwa Khofifah menyadari Risma bukan lawan yang mudah dihadapi. Risma, dengan gayanya yang ceplas-ceplos dan berbasis data, sukses meruntuhkan aura percaya diri Khofifah yang dikenal sebagai sosok tenang dan penuh wibawa.
Secara politik, gaya komunikasi Khofifah yang lebih berhati-hati ini bisa menandakan bahwa sang petahana mulai tergerus oleh kehadiran Risma. Khofifah sendiri sempat diserang oleh publik karena dianggap menggunakan politik identitas saat Pilgub 2018, dan kali ini, semua pasangan calon merupakan santri dengan akar kuat di Nahdlatul Ulama (NU), termasuk Gus Hans yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al-Azhar, Jombang.
Salah satu serangan tajam datang dari mantan anggota DPR, Luluk-Lukman, yang mengevaluasi masa jabatan Khofifah. Mereka menyoroti sejumlah program yang dinilai tidak berjalan efektif, seperti Jembatan Suramadu yang belum sepenuhnya menghubungkan Surabaya-Madura secara ekonomi. Di sisi lain, Risma dan Gus Hans berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau dan garam di Madura, yang hingga kini masih belum mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah.
Data kemiskinan di Jawa Timur juga menjadi topik hangat. Meski angka kemiskinan perkotaan turun menjadi 9,79 persen, kemiskinan di pedesaan seperti Sampang, Bangkalan, dan Sumenep masih sangat tinggi, dengan Sampang mencatat 20,83 persen. Risma pun meragukan klaim keberhasilan Khofifah dalam memuliakan masyarakat Madura, menekankan bahwa banyak wilayah di sana masih kekurangan air bersih dan tertinggal dalam pembangunan ekonomi.
Pada akhir debat, Risma menyerukan pentingnya prinsip “Resik-Resik Jatim” dalam mengelola pemerintahan yang bersih dan efektif, sementara Gus Hans mengutip ayat Al-Qur’an yang relevan dengan tantangan pembangunan Jawa Timur. Pasangan ini sukses menampilkan diri sebagai alternatif kuat, dengan Risma yang dikenal sebagai birokrat pekerja keras sejak menjabat Wali Kota Surabaya selama 10 tahun.
Kehadiran Risma dalam debat perdana ini mencuri perhatian publik, sementara polling pasca-debat menunjukkan bahwa pasangan Risma-Gus Hans mulai unggul dalam perolehan suara. Menurut polling Kompas.com, mereka meraih 43 persen dukungan, sementara Khofifah-Emil hanya 37 persen. Polling di platform X yang diselenggarakan beritajatim.com juga memperlihatkan tren serupa, dengan Risma-Gus Hans mendapatkan 44,9 persen suara, mengungguli Khofifah-Emil yang hanya memperoleh 24,5 persen.
Tren ini menunjukkan bahwa Risma-Gus Hans semakin mendapat tempat di hati publik Jawa Timur, terutama karena solusi yang mereka tawarkan untuk berbagai masalah di provinsi tersebut. Dengan waktu kampanye yang masih tersisa, tidak menutup kemungkinan bahwa pasangan Risma-Gus Hans mampu mengejar bahkan menyalip petahana di Pilgub Jatim mendatang.
No comments yet.