Sumenep – Suasana penuh khidmat dan semangat kebersamaan mewarnai puncak peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Dasuk, pada Sabtu, 1 November 2025.
Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Sekretariat MWC NU Dasuk ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat lintas sektor, mulai dari pengurus NU, unsur Koramil Dasuk, Polsek Dasuk, hingga tokoh agama dan pemuda setempat.
Peringatan tersebut menjadi momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan, sekaligus mempererat silaturahim antarwarga Nahdliyin.
Dalam kesempatan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, K. Abd. Wasid, M.Pd., memberikan mauidzah hasanah yang menggugah semangat kebangsaan para jamaah.
Beliau menuturkan bahwa sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama berakar dari gerakan Nahdlatul Wathan, yang sejak awal memiliki dua tujuan besar: menyebarkan dakwah Islamiyah dan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Para pendiri NU mendirikan Nahdlatul Wathan dengan dua tujuan besar: dakwah Islamiyah dan perjuangan kemerdekaan. Maka santri hari ini harus meneruskan semangat perjuangan itu dengan cara-cara baru yang relevan dengan zaman,” ujarnya dengan tegas.
Lebih jauh, K. Abd. Wasid menjelaskan secara mendalam tentang makna jihad fisabilillah, yakni perjuangan sungguh-sungguh membela agama, bangsa, dan negara.
Ia mengingatkan bahwa resolusi jihad kebangsaan yang lahir dari para ulama pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti nyata bagaimana semangat jihad dalam Islam diterjemahkan ke dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Jihad fisabilillah bukan semata angkat senjata, tetapi juga perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Resolusi jihad yang digelorakan para ulama dahulu adalah bentuk cinta tanah air sebagai bagian dari iman,” terang K. Abd. Wasid di hadapan peserta.
Beliau menekankan bahwa santri dan warga NU wajib meneladani semangat para ulama terdahulu yang berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan dan kemaslahatan umat.
Semangat jihad kebangsaan itu, kata beliau, harus terus dihidupkan melalui kegiatan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Selain itu, K. Abd. Wasid juga memberikan perhatian khusus terhadap peran para guru ngaji di pelosok desa. Menurutnya, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berperan vital dalam menanamkan dasar-dasar keimanan, akhlak, dan kecintaan terhadap Islam sejak usia dini.
“Guru ngaji di desa-desa adalah pejuang sejati. Dari surau-surau kecil dan langgar sederhana, mereka menanamkan nilai keislaman dan akhlak mulia kepada generasi muslim. Mereka adalah penjaga moral bangsa,” ungkapnya penuh penghargaan.
Tak hanya itu, beliau juga mengimbau masyarakat untuk terus menghidupkan perkumpulan dan majelis keagamaan rutin, seperti yasinan, tahlilan, dan pengajian mingguan.
Menurutnya, kegiatan keagamaan semacam ini bukan hanya sarana menimba ilmu, tetapi juga media mempererat silaturahim dan menghindarkan masyarakat dari sikap individualis yang kian menguat di era modern.
“Majelis-majelis keagamaan adalah ruh kehidupan sosial kita. Dari situ lahir rasa persaudaraan, kepedulian, dan kehangatan antarwarga. Jangan biarkan masyarakat kita kehilangan tradisi silaturahim,” pesannya.
Acara puncak Hari Santri Nasional 2025 di MWC NU Dasuk berlangsung penuh makna dan semangat.
Para jamaah antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari tahlil bersama, doa, hingga mendengarkan tausiyah yang sarat pesan kebangsaan.
Di akhir ceramahnya, K. Abd. Wasid menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar seremoni, tetapi momentum memperkuat jati diri santri sebagai penjaga moral dan penerus perjuangan para ulama.
“Santri harus terus hadir di tengah masyarakat, membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan. Menjadi santri berarti siap berjuang untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, MWC NU Dasuk meneguhkan kembali komitmen untuk melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, berjiwa sosial, dan cinta tanah air.
Semangat jihad kebangsaan dan nilai-nilai perjuangan ulama diharapkan terus menjadi suluh penerang bagi kehidupan masyarakat modern yang kian kompleks.
No comments yet.