Malang, Senin (13/4/2025) — Gagasan besar untuk menyatukan santri dan alumni pesantren dalam satu wadah nasional kembali mengemuka. Hal ini disampaikan oleh Abd. Aziz, yang juga dikenal sebagai advokat, legal consultant, mediator non-hakim, serta CEO Firma Hukum Progresif Law, usai serangkaian diskusi bersama para ulama Nahdlatul Ulama (NU).
Inisiatif tersebut bermula dari komunikasi intens dengan Imam Buchori Cholil, ulama kharismatik Madura yang merupakan cicit dari Syaikhona Cholil Bangkalan. Dalam perbincangan yang berlangsung menjelang waktu subuh, Imam Buchori menyampaikan gagasan strategis terkait pentingnya membangun kebersamaan antara santri dan alumni pesantren di seluruh Indonesia.
Gagasan itu merupakan buah pemikiran dari Muhammad Ali Cholil, yang menginisiasi pendirian Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara (IHSAN). Lembaga ini dirancang sebagai ruang kolaborasi nasional guna memperkuat peran santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta merawat nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas.
“Santri dan alumni pesantren harus bersatu dalam bingkai kebersamaan untuk menjaga keutuhan bangsa, merawat hubungan kemanusiaan, dan menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas,” ujar Aziz menirukan harapannya dalam diskusi tersebut.
Beberapa pekan setelah komunikasi awal, pertemuan lanjutan digelar di Kota Malang. Dalam forum yang berlangsung hangat selama kurang lebih dua jam itu, Aziz bersama Imam Buchori dan Muhammad Ali Cholil membahas langkah konkret untuk merealisasikan pendirian IHSAN.
Diskusi menitikberatkan pada pentingnya membangun manifesto gerakan santri sebagai komitmen bersama dalam berkontribusi terhadap pembangunan bangsa. Selain itu, IHSAN juga diharapkan menjadi instrumen strategis dalam mencegah potensi konflik sosial berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kerap terjadi di berbagai daerah.
Menurut Aziz, pendekatan preventif menjadi salah satu program utama yang akan diusung. Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan yang terencana, terukur, dan terprediksi guna meminimalisir risiko konflik sosial.
“Jika para ketua alumni pesantren bersatu, maka berbagai konflik seperti yang pernah terjadi di sejumlah daerah dapat dicegah sejak dini melalui pendekatan 3T: terencana, terukur, dan terprediksi,” tegasnya.
Selain itu, IHSAN juga akan mempelopori kegiatan berskala nasional, seperti peringatan Hari Santri Nasional dan doa kebangsaan yang direncanakan digelar di ratusan kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Dukungan terhadap pembentukan IHSAN, lanjut Aziz, terus mengalir dari berbagai kalangan ulama dan pengasuh pesantren. Kesamaan visi dalam menjaga marwah ulama serta mengamalkan nilai Islam rahmatan lil alamin menjadi landasan kuat berdirinya lembaga tersebut.
Dalam waktu dekat, tim penggagas akan menuntaskan penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dilanjutkan dengan proses legalisasi melalui notaris serta pendaftaran resmi ke Kementerian Hukum.
Rencananya, deklarasi nasional IHSAN akan digelar di wilayah Kalimantan dengan melibatkan para ulama, pengasuh pesantren, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Gagasan ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat peran strategis santri sebagai penjaga moral, perekat sosial, dan pilar penting dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika global.
Penulis: Kont. Malang
Editor: A.M. Roz
No comments yet.