Jakarta – Advokat ternama, Azam Khan, dalam sebuah podcast 24 Februari 2025 lalu, mengungkapkan kritiknya terhadap loyalitas berlebihan yang ditunjukkan beberapa pihak dalam jajaran kabinet pemerintahan khususnya Presiden Prabowo. Ia mengingatkan bahwa sanjungan yang berlebihan terhadap seorang pemimpin dapat menimbulkan persepsi negatif di mata rakyat.
Dalam pernyataannya, Azam Khan mengutip kisah Nabi Musa AS yang hidup selama 80 tahun di istana Firaun. Meski mendapatkan berbagai fasilitas dan kenyamanan, Nabi Musa tidak pernah memuji Firaun secara berlebihan atau merasa bahwa kehidupannya semata-mata berkat Firaun. Dengan analogi tersebut, ia mengingatkan bahwa hubungan dalam pemerintahan sebaiknya tidak didasarkan pada loyalitas buta.
“Pesan ini saya sampaikan kepada Pak Prabowo yang baru saja mengenal seseorang selama lima tahun. Dalam jajaran kabinet ini, tidak perlu terlalu berlebihan dalam memberikan sanjungan, karena rakyat sudah mengerti,” ujar Azam Khan dalam podcast tersebut.
Ia juga menyoroti penggunaan frasa “Hidup Jokowi” yang menurutnya dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap rakyat Indonesia. Menurutnya, kemenangan dalam pemilu bukan hanya karena satu individu, tetapi hasil pilihan rakyat secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Azam Khan menggunakan metafora “Garuda berdarah-darah” untuk menggambarkan kondisi bangsa yang, menurutnya, sedang menghadapi tantangan berat akibat pengaruh oligarki. Ia menyoroti bagaimana para intelektual, akademisi, dan tokoh masyarakat tampak kalah dengan kelompok yang tidak memiliki dasar intelektual yang kuat.
Pernyataan Azam Khan ini memicu berbagai tanggapan dari masyarakat dan pemerhati politik, terutama terkait kritiknya terhadap dinamika politik dalam kabinet pemerintahan saat ini.
No comments yet.