Advertorial, Blits News – Sebuah pengalaman unik dan penuh makna dialami Abdul Aziz, Advokat, Legal Consultant, dan CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW, saat menghadiri resepsi pernikahan putri Kiai Anas Fauzie di Pondok Pesantren A-Rozzaq, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang.
Resepsi yang digelar dalam suasana hangat itu bukan hanya menjadi ajang silaturahmi dan syukuran, namun juga menunjukkan nilai-nilai keislaman yang kuat. “Sungguh sebuah pembeda,” ujar Abdul Aziz saat mengisahkan momen istimewa tersebut.
Dalam acara Walimatul ‘Ursy yang dihadiri para sahabat, keluarga, dan kerabat, Aziz mengaku sempat terkejut saat namanya disebut oleh MC secara khusus: “Selamat datang, Pak Aziz, CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW.” Ungkapan tersebut dianggapnya sebagai bentuk penghormatan yang tak biasa, terlebih dalam konteks resepsi pernikahan.
Suasana hangat terasa ketika ia menaiki panggung dan disambut langsung oleh Kiai Anas dengan senyum ramah. Doa pun terucap untuk kedua mempelai, Nadya dan Syihab, agar mengarungi bahtera rumah tangga dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Namun, ada satu hal yang membuat acara ini benar-benar berbeda. Saat waktu salat tiba, seluruh kegiatan resepsi dihentikan. MC mengumumkan jeda selama 60 menit agar para tamu, termasuk pengantin dan keluarga, bisa melaksanakan salat Ashar.
“Inilah yang membedakan resepsi ala Kiai Anas dengan kebanyakan,” kata Aziz. Menurutnya, meski resepsi pernikahan adalah momen sakral yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad), tetapi tidak boleh menggeser kewajiban utama seorang Muslim, yaitu salat.
Hal ini kemudian dikonfirmasi langsung olehnya kepada sang Kiai yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Sukun, Kota Malang. “Apakah memang selalu seperti ini, Kiai?” tanya Aziz. Dan jawaban sang Kiai, yang juga dikenal sebagai “Penghulu Viral” karena sering muncul di televisi dengan nasihat pernikahan yang inspiratif, pun membenarkan hal tersebut.
Sikap ini, menurut Abdul Aziz, menjadi pelajaran penting bagi umat Islam: bahwa dalam setiap momen, seberapa besar pun kemeriahan dan sakralnya, tetap harus mengedepankan kewajiban kepada Allah SWT.
“Ini menjadi pesan kuat: jangan lupakan salat, bahkan dalam kebahagiaan besar sekalipun,” tutup Aziz.
No comments yet.