admin • Mar 27 2026 • 117 Dilihat

Malang, 27 Maret 2026 — Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026, Wakil Rais ‘Aam PBNU, Kiai Afifuddin Muhajir, menegaskan pentingnya menjaga integritas organisasi dengan menolak praktik politik uang dalam proses pemilihan kepemimpinan.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan silaturahmi Abdul Aziz, seorang advokat dan Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), di kediamannya di kawasan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (24/3/2026) malam.
Dalam suasana sederhana dan penuh kehangatan, Kiai Afif yang dikenal sebagai ulama ahli fikih dan ushul fikih itu menekankan bahwa Muktamar NU harus kembali pada tujuan awal pendirian organisasi oleh Hasyim Asy’ari, yakni menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat serta memperkuat peran sosial, pendidikan, dan kebangsaan.
“Saya berharap Muktamar NU berjalan tanpa adanya politik uang. Praktik itu tidak hanya merusak integritas ulama, tetapi juga mencederai tujuan luhur berdirinya NU,” ujar Kiai Afif.
Ia menambahkan, pemilihan Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU harus didasarkan pada rekam jejak, integritas, serta keberpihakan kepada umat, bukan pada kekuatan modal atau transaksi politik.
“Pilihlah yang memiliki rekam jejak jelas di NU, integritasnya tidak diragukan, dan tidak mengakapitalisasi dukungan dengan uang. Jika prosesnya benar, maka hasilnya pun akan melahirkan pemimpin yang benar,” tegasnya.
Kiai Afif juga menyoroti peran strategis NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, selama ini NU telah menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah, pengawal moral bangsa, sekaligus penopang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Karena itu, kepemimpinan NU ke depan dinilai harus mampu memperkuat tiga peran utama tersebut secara konsisten dan berkelanjutan.
Terkait dinamika kandidat yang akan maju dalam Muktamar, Kiai Afif memilih bersikap hati-hati. Saat ditanya mengenai figur potensial, ia menjawab dengan nada ringan namun sarat makna.
“Kalau tidak tahu, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang,” ujarnya, disambut tawa para hadirin.
Jawaban tersebut dinilai sebagai bentuk sikap bijak untuk menghindari potensi disharmoni di internal organisasi menjelang forum tertinggi NU tersebut.
Diketahui, rangkaian Muktamar NU ke-35 akan diawali dengan agenda Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU pada April 2026. Adapun lokasi Muktamar direncanakan berlangsung di kawasan Pondok Gede, yang berbatasan langsung dengan Jakarta Timur.
Sebagai ulama yang dikenal luas memiliki pemikiran moderat dan kontribusi besar dalam pengembangan fikih tata negara, Kiai Afifuddin Muhajir dinilai banyak kalangan sebagai salah satu figur yang layak diperhitungkan dalam bursa Rais ‘Aam PBNU.
Menutup perbincangan, Kiai Afif berharap Muktamar NU dapat melahirkan kepemimpinan yang visioner, berintegritas, dan mampu menjaga marwah organisasi di tengah tantangan zaman.
“Mari bersama-sama menjaga NU tetap berwibawa, menjadi jembatan moderasi Islam, serta terus berkontribusi bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Jakarta, 23 Maret 2026 — Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (DPP GMPK) mengec...
Jakarta, 1 Maret 2026 – Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, advokat Azam Khan menyampaikan ...
Zamrud Khan menegaskan pentingnya mengembalikan peran pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi ...
Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang direncanakan berlangsung pada 2026, w...
Advertorial-blitsnews.id_Wacana pelaksanaan Muktamar sebagai jalan keluar atas dinamika kepemimpinan...
Silaturrahmi tidak pernah hadir tanpa makna. Setiap perjumpaan diyakini sebagai bagian dari ketetapa...

No comments yet.