Silaturrahmi tidak pernah hadir tanpa makna. Setiap perjumpaan diyakini sebagai bagian dari ketetapan ilahi yang menautkan satu manusia dengan lainnya. Begitu pula sowan yang dilakukan Abdul Aziz kepada Rais Am PBNU, KH. Miftachul Akhyar, di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (2/12) malam. Kunjungan ini berlangsung di sela kesibukan Abdul Aziz mempersiapkan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GMPK 2025–2029.
Pertemuan tersebut menjadi kali kedua Abdul Aziz bersilaturrahim dengan ulama kharismatik itu. Sebelumnya, sowan dilakukan sekitar 2014 di Pondok Pesantren Miftachussunah Surabaya. Meski jarak waktu cukup panjang, kesan mendalam terhadap pribadi KH. Miftachul Akhyar tetap melekat pada dirinya: sederhana, teduh, dan penuh kehati-hatian dalam setiap langkah.
Lahir dari keluarga ulama pada 1953 dan menempuh pendidikan di berbagai pesantren besar—Bahrul Ulum Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, Sidogiri, Al-Islah Lasem, hingga Majelis Taklim Sayyid Muhammad Al-Maliki—rekam jejak keilmuan Kiai Miftach tidak diragukan. Perjalanan panjang inilah yang mengantarkannya memegang berbagai posisi strategis, baik di lingkungan NU maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum akhirnya terpilih sebagai Rais Am PBNU.
Dalam pandangan Abdul Aziz, Kiai Miftach adalah sosok pemimpin yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Ia dikenal cermat mendengar aspirasi, berhati-hati dalam bersikap, serta menimbang keputusan berdasarkan syariat dan konstitusi organisasi. Model kepemimpinan demikian menjadikannya figur yang matang, teguh, dan berwibawa. Keteladanan itu pula yang mengantarkan namanya sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh dunia versi The Royal Islamic Strategic Studies Center pada 2022.
Kesederhanaan dan keluasan akhlaknya kembali terlihat ketika Abdul Aziz memasuki ruangannya. Tanpa menunggu, Kiai Miftach berdiri, menyambut tamu dengan hormat, dan mempersilakan duduk dengan penuh kelembutan. Tidak ada nada tinggi, tidak ada sikap berjarak—hanya keteduhan seorang ulama yang memuliakan siapa pun yang datang.
Sikap tenang yang selalu terpancar dari dirinya membuat Abdul Aziz merenung. Keteguhan emosional semacam ini hanya dimiliki oleh mereka yang matang secara spiritual maupun intelektual. Dalam banyak situasi, ketenangan seorang pemimpin mencerminkan kedalaman ilmunya. Sebaliknya, respons meledak-ledak justru menandakan kerentanan emosi.
Karena mengetahui padatnya agenda Rais Am PBNU, Abdul Aziz pamit setelah berbincang seperlunya. Keluar dari gedung PBNU yang malam itu diguyur gerimis ringan, ia kembali mengingat pesan almarhum Gus Dur mengenai hakikat kepemimpinan. Bahwa setiap keputusan seorang pemimpin harus bermuara pada kemaslahatan umat—sebagaimana prinsip Qawaid al-Fiqhiyyah: Tasharruful Imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil maslahah.
Untuk NU yang kita banggakan, pesan itu tetap relevan. Berkhidmatlah untuk umat, rawatlah negeri ini dengan ketulusan, dan teruslah melangkah dengan kontribusi yang progresif. Silaturrahmi kepada Kiai Miftachul Akhyar bukan hanya pertemuan, tetapi pengingat bahwa keteladanan sejati selalu memancar dari sikap, bukan sekadar kata-kata.
No comments yet.