SUMENEP – Ribuan umat Islam dari berbagai penjuru Madura dan sekitarnya tumpah ruah menghadiri acara Tabligh Akbar yang digelar di Pondok Pesantren Ar-Raudhah, Lingkar Barat, Sumenep, pada Jumat malam (11 Juli 2025). Acara yang menghadirkan ulama kharismatik Dr. Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc., M.A., DPMSS itu berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat keagamaan yang membara, meski dimulai menjelang larut malam.
Habib Rizieq sendiri bukanlah sosok asing di kalangan umat Islam Indonesia maupun dunia Islam internasional. Beliau dikenal sebagai pendiri Front Pembela Islam (FPI), ulama pejuang, sekaligus tokoh panutan bagi banyak kalangan. Bahkan pada 19 Maret 2019, beliau menerima gelar kehormatan dari Sultan Sulu, yang menobatkannya sebagai Mufti Agung Kesultanan Sulu Darul Islam, sebuah kerajaan Islam bersejarah di wilayah selatan Filipina. Gelar ini menambah legitimasi keilmuan dan spiritualitas beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia Islam kontemporer.
Kehadiran Habib Rizieq di Sumenep menjadi momentum besar yang telah lama dinantikan umat. Pasalnya, tabligh akbar ini sejatinya dijadwalkan berlangsung pada bulan Juli 2024. Namun, karena padatnya agenda dakwah beliau di berbagai daerah dan adanya kendala yang tak terhindarkan, jadwal tersebut baru bisa direalisasikan pada Juli 2025. Tentu, penantian panjang ini menjadi alasan kuat mengapa antusiasme masyarakat begitu luar biasa.
Uniknya, di tengah gelombang massa umat yang begitu besar, tidak satu pun pejabat daerah yang diundang tampak hadir di lokasi. Berdasarkan informasi dari panitia pelaksana, sejumlah nama penting yang telah dikirimkan undangan resmi—seperti Bupati dan Wakil Bupati Sumenep, Kapolres, Komandan Kodim, Ketua Pengadilan Negeri, hingga Kepala Kejaksaan Negeri—tidak terlihat menghadiri acara tersebut. Ketidakhadiran mereka menjadi sorotan tersendiri, mengingat acara ini berskala besar dan melibatkan massa dalam jumlah yang sangat signifikan.
Meski tanpa kehadiran unsur pimpinan daerah, acara tabligh akbar tetap berlangsung dengan sukses dan tertib. Bahkan, panitia mencatat bahwa jumlah jamaah yang hadir mencapai estimasi hampir 20 ribu orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, serta rombongan dari berbagai kecamatan di wilayah Sumenep dan luar daerah. Mereka memadati area pondok pesantren dan sekitarnya sejak sore hari, menanti kehadiran Habib Rizieq dengan penuh kerinduan.
Habib Rizieq tiba di lokasi tabligh akbar setelah terlebih dahulu menghadiri agenda di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, salah satu lembaga pendidikan Islam ternama di Madura. Karena padatnya jadwal, beliau baru tiba di Pondok Ar-Raudhah menjelang tengah malam. Namun hal ini tidak mengurangi semangat umat yang setia menunggu hingga larut. Sebagian bahkan rela berdiri berjam-jam demi bisa menyimak langsung tausiyah sang ulama.
Dalam ceramahnya, Habib Rizieq menyampaikan pesan-pesan moral dan keagamaan yang menggugah. Ia menekankan pentingnya menjaga akidah, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta peran umat dalam menjaga moral bangsa. Jamaah yang hadir tampak khusyuk dan larut dalam suasana spiritual yang mendalam.
Malam itu, Pondok Pesantren Ar-Raudhah menjadi saksi betapa kuatnya magnet seorang ulama di tengah masyarakat. Di saat para pejabat memilih absen, umat justru hadir dengan penuh kesadaran dan kecintaan. Tabligh akbar ini bukan hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga menunjukkan bahwa suara umat tetap bergema tanpa perlu panggung politik dan protokoler birokrasi.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Habib Rizieq. Jamaah tampak enggan beranjak. Bahkan setelah acara selesai, banyak di antara mereka yang masih bertahan, bersalawat, dan bersilaturahmi satu sama lain.
Kebesaran acara ini menjadi pengingat bahwa kehadiran ulama di tengah umat tetap menjadi kekuatan sosial yang nyata. Di tengah tantangan zaman, umat Islam terus menunjukkan semangatnya dalam menuntut ilmu, memperkuat iman, dan membela nilai-nilai keislaman—meskipun tanpa kehadiran satu pun pejabat daerah.
No comments yet.