Sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat berkumpul dalam suasana santai usai sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (4/5) sore. Pertemuan yang berlangsung di sebuah kafe dekat Kantor Bupati Malang itu berkembang menjadi diskusi hangat yang membahas isu pengabdian kepada orang tua hingga komitmen pemberantasan korupsi di Malang Raya.
Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), Abdul Aziz, yang hadir dalam pertemuan tersebut, awalnya menyoroti pentingnya peran anak dalam merawat orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak memiliki makna apabila tidak diiringi dengan bakti kepada orang tua.
“Setiap anak lahir dari rahim seorang ibu. Menjadi apa pun, wajib merawat orang tua, terlebih ibu yang telah berjuang dengan penuh pengorbanan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut diamini oleh Abdullah Sam, yang juga dikenal sebagai tokoh pesantren di Malang. Ia menilai keteladanan dalam merawat orang tua menjadi alasan tersendiri bagi dirinya untuk hadir dalam forum tersebut.
“Harta dan jabatan tidak berarti jika seorang anak mengabaikan ibunya. Saya melihat langsung ketelatenan Gus Aziz merawat ibundanya selama bertahun-tahun,” tegasnya.
Diskusi yang dihadiri berbagai elemen aktivis itu turut diikuti oleh sejumlah nama seperti Fuad Ali, Muhammad Hidir, Emma Luthia Ekakiantaty, Memet Yudi Hermanto, Ahmad Rifai, Nahri, serta Asep Suriamam.
Menurut Fuad Ali, nilai keteladanan dalam pengabdian kepada orang tua menjadi faktor yang mendorong sejumlah aktivis bergabung dalam upaya pendirian GMPK di Kabupaten Malang.
“Kami merasa tertampar. Di usia yang lebih muda, kami seharusnya bisa lebih maksimal dalam berbakti kepada orang tua,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, diskusi berkembang ke isu yang lebih luas, yakni pencegahan dan pemberantasan korupsi di wilayah Malang Raya. Para peserta menekankan pentingnya integritas pribadi dan kolektif dalam membangun gerakan sosial yang berkelanjutan.
“Kita ingin berkontribusi sekecil apa pun untuk masyarakat. Ada yang setuju atau tidak, itu hal biasa. Yang penting nilai yang kita perjuangkan jelas,” kata Muhammad Hidir.
Sementara itu, Memet Yudi Hermanto mengingatkan agar seluruh anggota menjaga nama baik organisasi. Ia menegaskan bahwa GMPK merupakan lembaga yang telah diakui secara nasional, sehingga setiap kader harus menjunjung tinggi integritas.
“Walaupun tidak menjanjikan materi, tugas kita adalah menjaga marwah organisasi,” katanya.
Dukungan juga datang dari kalangan keluarga aktivis. Emma Luthia Ekakiantaty menyatakan kesiapan mendukung langkah suaminya dalam bergabung dengan gerakan pemberantasan korupsi.
“Ini bukan sekadar aktivitas, tapi bagian dari perjuangan moral yang bernilai jangka panjang,” ujarnya.
Senada, Ahmad Rifai menilai bahwa gerakan kolektif memiliki potensi besar dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih. Ia optimistis, konsolidasi aktivis dapat memberikan dampak positif bagi Kabupaten Malang.
“Jika dilakukan bersama, upaya ini bisa membawa perubahan nyata,” katanya.
Pertemuan yang berlangsung hingga malam hari itu ditutup dengan suasana penuh keakraban. Para peserta sepakat untuk melanjutkan diskusi dan memperkuat kolaborasi di kesempatan berikutnya.
“Kita lanjutkan di lain waktu. Salam untuk keluarga di rumah,” tutup Abdul Aziz sebelum meninggalkan lokasi.
Penulis: Kont. Malang
Editor: A.M. Roz
No comments yet.