Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kiai Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, digambarkan sebagai sosok yang mengedepankan kerendahan hati, ketenangan dalam berkomunikasi, serta kesediaan mendengarkan gagasan dari siapa pun.
Gambaran tersebut disampaikan Abd. Aziz dalam sebuah testimoni karakter yang merekam pengalaman dan pengamatannya terhadap Gus Kikin, termasuk dalam percakapan yang berlangsung sebelum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.
Dalam siaran pers berjudul “Sebuah Testimoni Karakter: Sisi Tersembunyi Gus Kikin: Biasa Mendengar, Teduh Berbicara, Menghargai Gagasan”, Abd. Aziz menilai karakter Gus Kikin tidak semata-mata terlihat dari jabatan yang disandangnya, tetapi dari cara ia memperlakukan orang lain dalam sebuah percakapan.
Menurut Abd. Aziz, Gus Kikin tidak terburu-buru memotong pembicaraan dan memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyampaikan pemikirannya hingga selesai. Sikap tersebut, menurutnya, tetap terlihat ketika Gus Kikin berbicara dengan orang yang lebih muda atau tidak memiliki status sosial menonjol.
“Manusia diperlakukan sebagai manusia,” tulis Abd. Aziz dalam testimoni tersebut.
Abd. Aziz juga menceritakan pengalamannya berbincang dengan Gus Kikin beberapa bulan sebelum Muktamar ke-35 NU. Saat itu, ia menyebut dirinya sebagai anak muda yang menggawangi berdirinya Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU).
Menurutnya, percakapan dengan Gus Kikin tidak sekadar membahas persoalan pribadi atau basa-basi. Pembicaraan turut menyentuh kegelisahan mengenai masa depan NU, gagasan tentang arah PBNU, serta kebutuhan agar organisasi semakin modern, profesional, dan terbuka terhadap pemikiran, tanpa kehilangan akar tradisi dan khazanah ke-NU-an.
Dari pengalaman tersebut, Abd. Aziz melihat bahwa Gus Kikin tidak hanya mendengarkan orang berdasarkan jabatan atau status, tetapi juga memberikan perhatian terhadap gagasan yang disampaikan.
Menghargai Gagasan, Bukan Sekadar Status
Abd. Aziz kemudian menyoroti perbedaan antara pemimpin yang hanya ingin mendengarkan orang-orang penting dan pemimpin yang bersedia mendengarkan pemikiran penting.
Menurut dia, organisasi sebesar NU membutuhkan ruang bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan gagasan, mulai dari kiai, ulama, intelektual, akademisi, aktivis, profesional, anak muda, pesantren hingga warga Nahdliyin di akar rumput.
Ia menilai kemampuan untuk mendengar merupakan bagian penting dalam kepemimpinan organisasi yang besar.
Dalam testimoninya, Abd. Aziz juga menekankan bahwa kerendahan hati tidak identik dengan kelemahan. Tidak memotong pembicaraan, menurutnya, bukan berarti seseorang tidak memiliki pendirian. Begitu pula mendengarkan pendapat orang lain tidak otomatis berarti kehilangan otoritas.
Ia menggambarkan kewibawaan Gus Kikin lebih banyak terlihat melalui ketenangan, kesabaran, dan kemampuannya membuat orang lain merasa dihargai.
Dari Tebuireng untuk PBNU
Dalam siaran pers tersebut disebutkan bahwa Gus Kikin kini dipercaya menakhodai PBNU periode 2026–2031 bersama Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
Abd. Aziz menyebut karakter personal tersebut sebagai salah satu modal dalam perjalanan organisasi. Namun, ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan tidak cukup hanya mengandalkan karakter pribadi.
Menurutnya, NU menghadapi berbagai tantangan, antara lain terkait organisasi, kaderisasi, tata kelola, transformasi digital, ekonomi umat, pendidikan, politik kebangsaan, dan perubahan sosial.
Dalam konteks tersebut, kemampuan mendengarkan dinilai tetap relevan sebagai bagian dari proses kepemimpinan, terutama mendengarkan suara yang datang dari luar lingkaran kekuasaan.
Abd. Aziz merangkum gagasan tersebut dengan prinsip “mendengar sebelum memutuskan, mendengar sebelum mengoreksi, dan mendengar sebelum menyimpulkan.”
Ia berharap kebiasaan tersebut dapat dibawa dari Tebuireng ke PBNU sehingga organisasi yang besar secara struktur tetap memiliki kultur yang rendah hati.
Testimoni Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Abd. Aziz menegaskan bahwa tulisan tersebut merupakan pengalaman dan pengamatannya secara pribadi terhadap Gus Kikin. Karena itu, ia mengakui bahwa pengalaman tersebut dapat berbeda dengan pengalaman orang lain.
Ia menyebut pengalamannya bersama Gus Kikin telah diperoleh sejak sebelum Gus Kikin ditetapkan sebagai penjabat Ketua PWNU Jawa Timur.
Dalam pandangannya, jabatan sebagai Pengasuh Tebuireng maupun posisi sebagai Ketua Umum PBNU bukan satu-satunya hal yang menggambarkan sosok Gus Kikin. Ia justru menempatkan sikap bersedia duduk, berbincang, mendengarkan, dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menyampaikan gagasan sebagai sisi karakter yang menurutnya penting untuk diperhatikan.
Testimoni Abd. Aziz tersebut pada dasarnya merupakan kesaksian personal mengenai karakter dan gaya komunikasi Gus Kikin berdasarkan pengalaman penulisnya. Tulisan itu menempatkan kemampuan mendengarkan, ketenangan, dan penghargaan terhadap gagasan sebagai kualitas yang dinilai penting dalam perjalanan kepemimpinan NU ke depan.
Penulis: Kont. Jakarta
Editor: A.M. Roz
No comments yet.